(Sebuah refleksi psikologis tentang coping mechanism, tubuh, dan kejujuran pada diri sendiri)

Pada era modern, kata healing sering diperbincangkan di kalangan generasi muda dan menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Lalu, muncul satu pertanyaan yang lebih dalam, “apakah kita benar-benar sedang healing (menyembuhkan diri) atau sekadar menenangkan diri sementara agar tidak perlu berhadapan dengan masalah yang ada?” Lebih jauh lagi, apakah kita benar-benar memahami arti istilah ini healing dengan benar?
Dalam psikologi, cara kita menghadapi tekanan hidup dikenal sebagai coping mechanism yaitu upaya kognitif dan perilaku untuk mengelola stres, baik secara adaptif maupun maladaptif (Frydenberg, 2014). Nah, cara kita“healing” sebenarnya adalah cerminan dari bagaimana kita melakukan mekanisme coping itu.
Coping Mechanism: Hadapi atau Hindari
Menurut teori klasik dari Lazarus & Folkman (1984), coping terbagi menjadi beberapa bentuk utama:
1. Problem-focused coping: menghadapi masalah secara langsung
2. Emotion-focused coping: mengelola emosi akibat masalah
3. Avoidant coping: menghindari atau menyangkal masalah
Ketiga cara tersebut memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Akan tetapi, perbedaan yang jelas adalah dampak jangka panjangnya. Yuk, kita bahas satu per satu.
Healing: Proses Bertemu Diri, Bukan Menghindari Realitas
Healing atau cara memulihkan mental bukan proses untuk mencari kenyamanan sementara, tetapi berani mengolah pengalaman emosional. Healing adalah bentuk coping yang adaptif, mekanisme healing melibatkan sesi istirahat, refleksi, dan penerimaan emosi yang tidak selalu menyenangkan. Tak kalah penting daripada semua itu, healing tetap perlu terhubung dengan realitas. Perlu dicatat, healing memang tidak dapat membuat masalah hilang, tetapi membuat kita lebih siap menghadapinya.
Self-Care: Mengisi Energi, Bukan Menutup Luka
Self-care sering disalahartikan sebagai healing. Padahal, self-care lebih tepat dipahami sebagai cara menjaga kapasitas diri agar tetap stabil.
Contoh self-care dasar untuk menjaga kualitas kesejahteraan.
1. Tidur cukup
2. Makan teratur
3. Melakukan aktivitas menyenangkan
Self-care adalah bagian dari emotion-focused coping yang sehat, proses ini membantu menenangkan sistem saraf agar kita tidak kewalahan (Sharma & Manoj, 2024). Self-care dapat bersifat preventif dan kuratif.
Lari dari Masalah: Coping yang Terasa Nyaman, Tapi Menunda Luka
Yang sering dikira sebagai healing justru adalah avoidant coping atau menghindari masalah.
Bentuknya bisa halus, seperti:
1. Terlalu sibuk agar tidak sempat berpikir
2. Liburan terus-menerus tanpa refleksi
3. Menenangkan diri tanpa pernah membahas akar masalah
Secara jangka pendek, ini terasa menenangkan dan menyegarkan. Tapi dalam jangka panjang, strategi ini justru berkaitan dengan meningkatnya stres dan gangguan psikologis (Joseph, 2025).
Sudah saatnya kita healing dengan cara yang tepat dan adaptif. Untuk penguatan psikologis, bisa dilakukan dengan cara konseling atau terapi psikologis. Tidak hanya itu, fisik dengan paparan stres dalam waktu yang lama akan menyimpan ketegangan pada otot dan membuat tubuh menjadi cepat lelah. Untuk itu, penting juga untuk merelaksasi tubuh yang lelah, salah satunya dengan perawatan spa.
Spa sebagai Ruang Refleksi: Healing untuk Tubuh yang Terhubung dengan Pikiran
Tubuh sering menyimpan stres yang tidak sempat diproses oleh pikiran. Dengan pemaknaan yang lebih dalam, spa bukan sekadar relaksasi. Sesi spa bisa menjadi ruang refleksi embodied, tempat di mana tubuh dan pikiran kembali terhubung.
Saat tubuh rileks:
1. Sistem saraf melambat
2. Emosi menjadi lebih mudah diakses
3. ikiran lebih jernih untuk refleksi
Pada titik ini, spa bukan pelarian, melainkan jeda sadar untuk kembali pada diri sendiri.
Konseling sebagai Ruang Kejujuran: Saat Kita Berhenti Berpura-Pura Kuat
Jika spa adalah ruang untuk tubuh, maka konseling adalah ruang untuk kejujuran.
Dalam konseling psikologi, kamu akan disadarkan bahwa..
1. Kita tidak perlu terlihat baik-baik saja
2. Kita belajar memahami pola coping kita
3. Kita berani melihat apa yang selama ini dihindari
Penelitian menunjukkan bahwa hubungan terapeutik (therapeutic alliance) menjadi faktor penting dalam keberhasilan konseling karena di sanalah seseorang merasa cukup aman untuk jujur pada dirinya sendiri.
Konseling bukan tentang “memperbaiki diri,” tapi tentang memahami diri secara utuh.
Saatnya Healing Tanpa Kabur
Jika selama ini kamu merasa “healing tapi tetap capek,” mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar istirahat, tapi ruang untuk benar-benar memahami diri.
✨ Pulihkan tubuhmu melalui pengalaman relaksasi yang mindful di spa
✨ Temui pikiranmu dengan jujur melalui sesi konseling psikologi
Kamu bisa memulai perjalanan healing yang lebih utuh di Elasi Wellness Center, tempat di mana tubuh diberi ruang untuk rileks, dan pikiran diberi ruang untuk jujur.
Karena healing yang sebenarnya… bukan tentang kabur, tapi tentang kembali pulang.
Lokasi Elasi Wellness Center: https://share.google/CJxMXuVKFc93IF9yd
DAFTAR REFERENSI
Folkman, S., & Moskowitz, J. T. (2000). Stress, coping, and health: An overview. Psychosomatic Medicine, 62(2), 113–127.
Frydenberg, E. (2014). Coping research: Historical background, links with emotion, and new research directions on adaptive processes. Australian Journal of Psychology, 66(2), 82–92. https://doi.org/10.1111/ajpy.12051
Joseph, Williams.(2025).Coping Mechanisms in Psychology: An In-Depth Exploration of Strategies for Managing Stress and Adversity.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer Publishing.
Moos, R. H., & Holahan, C. J. (2003). Dispositional and contextual perspectives on coping. Journal of Clinical Psychology, 59(12), 1387–1403.
Nolen-Hoeksema, S. (2000). The role of rumination in depressive disorders. Journal of Abnormal Psychology, 109(3), 504–511.
Skinner, E. A., Edge, K., Altman, J., & Sherwood, H. (2003). Searching for the structure of coping. Psychological Bulletin, 129(2), 216–269.


