Pada masa remaja, pikiran sering terasa “terlalu ramai” — berputar-putar memikirkan masa depan, hubungan pertemanan, penilaian orang lain, serta perubahan emosional dan fisik yang cepat. Fenomena ini sering disebut overthinking, yang secara psikologis berhubungan erat dengan ruminasi atau repetitive negative thinking; yakni pola berpikir berulang tentang pengalaman, kekhawatiran, atau situasi negatif tanpa menghasilkan solusi konkret. Dalam sebuah studi terbaru, para peneliti menemukan bahwa repetitive negative thinking merupakan pengalaman umum di kalangan remaja dan sering muncul pada malam hari, mengganggu tidur, serta menurunkan kualitas hidup dan kesejahteraan emosional secara keseluruhan (Huang et.al., 2025).
Salah satu alasan utama mengapa remaja lebih rentan terhadap overthinking karena sedang berada pada fase transisi perkembangan dengan tantangan perubahan yang besar. Pada usia ini, keterampilan kognitif dan emosional tengah berkembang, tetapi kemampuan regulasi emosi dan penyelesaian masalah belum sepenuhnya matang. Riset juga menunjukkan bahwa tingkat ruminasi pada remaja umumnya lebih tinggi dibandingkan orang dewasa, yang berarti remaja sering “terjebak” dalam pola pikir yang berulang dan tidak produktif (Faizah, 2019). Faktor sosial turut memperbesar keramaian pikiran tersebut. Tekanan dari teman sebaya, kebutuhan untuk diterima, serta dinamika hubungan interpersonal — terutama bagi remaja perempuan — dapat memperkuat pola ruminatif. Penelitian dalam domain psikopatologi perkembangan menyatakan bahwa ruminasi sering diaktifkan oleh interaksi sosial yang menimbulkan stres, ketika remaja merasa perlu menjaga keharmonisan hubungan meskipun itu berarti tidak menyelesaikan masalah secara langsung (Mendle, 2026).

Dampak overthinking bagi remaja tidak boleh dianggap remeh. Pola pikir yang terus-menerus berputar pada kekhawatiran atau pengalaman negatif dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan suasana hati, mengganggu konsentrasi di sekolah, serta merusak kualitas tidur — semua faktor ini berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa gaya berpikir ruminatif dapat memperburuk gejala depresi jika tidak dikelola dengan baik (Wilkinson, 2013). Untuk membantu remaja menenangkan pikiran dan mengurangi overthinking, berbagai pendekatan telah diteliti secara ilmiah. Salah satunya adalah terapi mindfulness, yang fokus pada membawa perhatian ke saat ini tanpa menghakimi pengalaman pikiran atau perasaan yang muncul. Teknik seperti STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) terbukti meningkatkan kesadaran saat ini dan membantu mengurangi pola pikir yang berulang-ulang. Pendekatan psikoterapi lain yang sering digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang membantu individu mengenali pola pikir tidak membantu dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih adaptif serta strategi coping yang sehat (Wahidah, 2019).

Selain itu, mekanisme coping seperti olahraga teratur, kegiatan sosial, serta membangun dukungan emosional dengan keluarga atau teman dekat juga menunjukkan hubungan positif dalam menurunkan stres dan memperkuat kesejahteraan remaja. Beberapa penelitian lokal menunjukkan bahwa semakin efektif mekanisme coping yang dimiliki seorang remaja, semakin rendah tingkat stres yang mereka rasakan — meskipun kekuatan hubungan ini bersifat moderat dan dipengaruhi oleh banyak faktor lain dalam kehidupan mereka. Pada akhirnya, overthinking pada remaja adalah fenomena yang wajar terjadi di tengah perubahan hidup yang cepat dan kompleks. Namun, jika pola pikir yang terlalu ramai berlangsung lama dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, ini bisa menjadi tanda bahwa dukungan — baik dari lingkungan sosial, keluarga, maupun profesional kesehatan mental — diperlukan. Dengan pendekatan yang tepat, remaja dapat belajar mengenali pola pikir yang tidak produktif dan mengembangkan keterampilan untuk menenangkan pikiran mereka secara sehat, menjaga kesejahteraan mental dan kualitas hidup yang lebih baik. Jika kondisi mentalmu sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk segera mencari pertolongan mental melalui layanan psikologi terdekat.
Layanan Psikologi
Elasi Wellness Center
Senin – Sabtu (09.00 – 17.00 WIB)
Minggu (dengan perjanjian)
Loc: Jl. Kaliurang Gg. Gayamsari III No.2 km 5, Karang Wuni, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Telp/WA: +6282227028879
REFERENSI
Huang NN, Moulds ML, Newby JM, Werner-Seidler A. Repetitive negative thinking in adolescence: a mixed methods study. Child Adolesc Psychiatry Ment Health. 2025 Dec 10;20(1):5. doi: 10.1186/s13034-025-01005-0. PMID: 41372961; PMCID: PMC12801832.
Faizah, Purnama. (2019). Rumination Antara Usia Remaja dan Dewasa. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi, 15(2). https://doi.org/10.32528/ins.v15i2.1721
Mendle J. Interpersonal motivations in adolescent rumination. Dev Psychopathol. 2026 Jan 20:1-5. doi: 10.1017/S0954579425101065. Epub ahead of print. PMID: 41555606.
Wilkinson, P.O., Croudace, T.J. & Goodyer, I.M. Rumination, anxiety, depressive symptoms and subsequent depression in adolescents at risk for psychopathology: a longitudinal cohort study. BMC Psychiatry 13, 250 (2013). https://doi.org/10.1186/1471-244X-13-250
https://doi.org/10.23917/indigenous.v3i2.6826


